Kodifikasi Gaya Artikel Jadi Satu File Skill
Instruksi gaya yang diulang di sepuluh prompt saya kodifikasi jadi skill blog-id-style, satu file yang dimuat agen pas dibutuhkan.
Ringkasan
Preferensi gaya yang diulang di banyak prompt itu duplikasi procedural knowledge: sekali lupa satu file, dua artikel beda standar. Solusinya agent skills dari Anthropic, folder instruksi yang dimuat agen secara dinamis; semua aturan gaya kini tinggal di satu skill bernama blog-id-style. Skill itu ibarat onboarding guide: isi cuma yang agen belum tahu, dan tiap perubahan gaya cukup ubah satu file.
Sore itu saya sedang nulis artikel kesepuluh soal AI agent. Saya copy-paste instruksi gaya yang sama untuk kesepuluh kalinya: jangan pembuka template, em-dash maksimal tiga kali, kata baku diganti yang santai. Di copy-paste kesepuluh itu akhirnya nyangkut juga: instruksi ini tersebar di banyak prompt. Ada di prompt utama, ada di template artikel, ada lagi di catatan pribadi yang cuma saya yang bisa baca. Kenapa saya harus ngulang yang sama tiap kali?
Awalnya saya pikir nggak ada yang salah. Aturan di prompt utama dan prompt artikel-dari-commit kan cukup. Ternyata nggak. Tiap kali saya mau ubah satu preferensi, saya harus ingat di file mana aja aturan itu duplikat. Sekali lupa, dua artikel punya standar beda.
Gaya editorial itu ternyata masalah klasik: procedural knowledge. Tahu gimana menulis dengan gaya tertentu itu beda dari tahu fakta soal bahasa. Pengetahuan begini butuh tempat yang bisa diakses agen pas dia relevan, bukan diselipin di tiap prompt.
Skill itu onboarding guide, bukan notes pribadi
Pas nyari bentuk yang pas, saya ketemu jawaban yang udah disiapin Anthropic. Agent skills itu folder berisi instruksi, script, dan resource yang agen bisa temukan dan muat secara dinamis pas tugasnya relevan [12]. Metafora resminya enak dicerna: bikin skill itu kayak nyusun onboarding guide buat karyawan baru [12]. Karyawan barunya di sini ya agen saya sendiri yang tiap sore diminta nulis artikel.
Prinsip nulis skill juga mengejutkan. Dok best-practices-nya bilang konteks window itu public good, dan aturan praktisnya cuma satu: tambah yang agen belum tahu, selebihnya buang [15]. Jadi pas pindah aturan gaya saya ke file skill, yang kepikiran bukan "apa lagi yang harus dimasukin" tapi "mana yang bisa dibuang". Aturan yang panjangnya dua kalimat tapi isinya udah melekat di model, ya udah gausah ditulis.
Preseden kodefikasi kayak gini sebenarnya udah lama ada di dunia dokumentasi. Google developer documentation style guide misalnya mewajibkan active voice dan jelasin alasannya: di kalimat pasif, pembaca gampang kehilangan jejak siapa yang ngelakuin sesuatu [13]. Itu bukan sekadar selerah, itu preferensi yang diubah jadi aturan dengan alasan. Bedanya cuma satu: mereka kodifikasi buat manusia, saya kodifikasi buat agen.
Aturan bahasa resmi aja ikut bergeser
Yang bikin saya makin yakin malah dari sisi bahasa Indonesia-nya. Pedoman resmi aja nggak statis. EYD edisi V diluncurkan Agustus 2022, balik pakai nama EYD setelah beberapa edisi disebut PUEBI, dan perubahannya diklaim lebih dari separuh bagian [14]. Kalo pedoman ejaan negara aja bisa direvisi segitu, skill gaya pribadi jelas bukan dokumen sekali-jadi. Makanya di file skill itu saya sisain tempat buat koreksi: tiap kali gaya saya berubah, satu file yang diubah, bukan sepuluh prompt.
Keputusan akhirnya: semua aturan gaya blog Indonesia sekarang tinggal di satu skill bernama blog-id-style. Prompt artikel tinggal tiga baris yang merujuk skill itu, sisanya biar agen muat sendiri pas butuh. Verifikasi otomatis tetap jadi lapisan kedua, karena aturan yang bisa di-check mesin sebaiknya emang dicek mesin, bukan cuma diharapkan diingat.
Pipeline artikel ini sendiri pernah saya ceritakan di stack riset artikel berbasis AI agent skills, dan soal gate otomatis yang menangkap pola tulisan ala AI ada di pasang skill avoid-ai-writing ke pipeline artikel. Dua-duanya jadi lapisan di sekitar skill kecil ini.
Opini saya tegas di sini: preferensi gaya yang cuma hidup di kepala (atau di prompt yang diulang-ulang) itu bug yang belum ketemu. Kodifikasiin sekali, tulis alasannya, dan biarkan file itu yang kerja berikutnya.
Sumber: