Skip to content
Konsultasi

EYD V: Perubahan Penting dan Panduan Menulis Kalimat Efektif

Adityo Guni Waluyo

Rangkuman perubahan EYD V, dari kata depan di sampai partikel pun, plus panduan praktis menyusun kalimat efektif untuk tulisan profesional.

Ringkasan

EYD V berlaku resmi sejak Agustus 2022 dan menggantikan PUEBI sepenuhnya. Perubahan utamanya mencakup kata depan ditulis terpisah, awalan disambung, partikel pun dipisah, serta pengakuan monoftong eu untuk kata serapan daerah. Selain ejaan, tulisan yang baik butuh kalimat efektif: hemat kata, logis, satu gagasan per kalimat, dan bentuk paralel.

Pernah ragu sejenak saat mengetik “di mana” atau “dimana”? Atau bingung “di lihat” harus disambung atau dipisah? Kebingungan ini wajar, apalagi sejak EYD V (Ejaan Yang Disempurnakan edisi kelima) berlaku resmi lewat SK 0424/I/BS.00.01/2022 pada 16 Agustus 2022, menggantikan PUEBI (EYD IV).

Artikel ini merangkum perubahan penting di EYD V sekaligus panduan praktis menyusun kalimat efektif, agar tulisan Anda untuk keperluan akademis, konten digital, maupun dokumen profesional terlihat tajam dan bebas kesalahan yang meragukan kredibilitas.

Mengenal EYD V dan Dasar Hukumnya

Landasan hukum pedoman ejaan resmi saat ini adalah Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Banyak penulis masih memakai referensi lama padahal pedoman ini sudah menggantikan PUEBI sepenuhnya.

Satu detail praktis yang sering terlewat: situs rujukan resmi kini bermigrasi ke domain ejaan.kemendikdasmen.go.id, mengikuti nomenklatur kementerian terbaru. Mengakses sumber primer jauh lebih aman daripada mengandalkan blog tipis yang menyebarkan aturan kedaluwarsa.

Perubahan Penting dalam Kaidah Ejaan Bahasa Indonesia

Memahami kaidah ejaan Indonesia yang baru tidak perlu menghafal seluruh buku panduan. Fokus pada area yang paling sering menimbulkan kesalahan sehari-hari.

Kata depan di, ke, dan dari yang menunjukkan tempat atau arah wajib ditulis terpisah: di rumah, ke pasar, dari kantor. Sebaliknya, bila di- atau ke- berfungsi sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif atau kata turunan, tulis serangkai: dilihat, ditulis, ketahuan.

Kesalahan klasik seperti “di lihat” langsung terlihat oleh editor. Ingat juga bahwa “di mana” dalam bahasa Indonesia yang baik hanya untuk menanyakan tempat; untuk merujuk situasi, pakai “yang”.

EYD V mengakui monoftong “eu” (dialihaksarakan dari bunyi ə) untuk kata serapan bahasa daerah, contohnya seudati dan eurih. Pedoman ini juga mempertegas bahwa gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy melambangkan satu bunyi konsonan, penting saat pemenggalan kata di akhir baris.

Partikel pun ditulis terpisah dari kata sebelumnya (dia pun pergi, apa pun masalahnya), kecuali 13 kata penghubung yang wajib serangkai: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, jikapun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun. Di luar daftar ini, pakai spasi.

Prinsip Dasar Menyusun Kalimat Efektif

Ejaan yang benar hanya kulitnya. Daging tulisan yang baik adalah kalimat efektif: kalimat yang menyampaikan gagasan kepada pembaca secara tepat, tanpa ambiguitas, sesuai kaidah. Pilar utamanya:

  1. Kehematan kata: buang kata yang tak menambah makna. “Para hadirin sekalian” cukup “hadirin”; “maju ke depan” cukup “maju”.
  2. Kelogisan bahasa: gagasan harus diterima akal. “Waktu dan tempat kami persilakan” tidak logis karena yang dipersilakan seharusnya orangnya.
  3. Kesatuan gagasan: satu kalimat, satu ide pokok dengan subjek dan predikat utuh. Hindari kalimat tanpa subjek khas iklan.
  4. Paralelisme: bentuk kata konsisten. Salah: “mencakup perencanaan, melaksanakan, dan evaluasi.” Benar: “mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.”

Empat pilar ini memastikan pesan Anda sampai tanpa terdistorsi struktur yang berantakan.

FAQ: Pertanyaan Seputar EYD Kelima

Apakah EYD V menggantikan PUEBI sepenuhnya?

Ya. EYD V yang berlaku sejak Agustus 2022 resmi menggantikan PUEBI (EYD IV); semua rujukan penulisan formal kini mengacu pada edisi kelima.

Bagaimana cara mudah membedakan penulisan “di” yang benar?

Pakai tes substitusi. Bila “di” bisa diganti “dari” atau “ke” dan tetap masuk akal sebagai penunjuk lokasi, tulis terpisah (di sekolah). Bila tidak, itu kemungkinan awalan pasif yang harus disambung (dimakan).

Apakah ada perubahan aturan tanda baca yang penting di EYD V?

Yang paling terasa: penegasan koma sebelum konjungsi pertentangan tetapi, melainkan, sedangkan, serta koma sebagai pemisah bilangan desimal (bukan titik, sesuai standar Indonesia).

Referensi

  1. Surat Keputusan EYD V; Kemendikdasmen
  2. Penulisan Kata Depan; Kemendikdasmen
  3. Penulisan Partikel; Kemendikdasmen
  4. Gabungan Huruf Konsonan; Kemendikdasmen
  5. Prinsip Kalimat Efektif; Ruangguru

Artikel terkait