Skip to content
Konsultasi

Pasang Skill avoid-ai-writing ke Pipeline Artikel

Adityo Guni Waluyo

Cara pasang skill avoid-ai-writing ke pipeline artikel adityo.web.id sebagai gate detect-only, plus pelajaran dari studi Stanford soal bias detector AI.

Mulai dari satu skill yang kebetulan muncul

Beberapa hari lalu saya lagi cek daftar skill di Hermes Atlas dan nemu conorbronsdon/avoid-ai-writing. Bukan sesuatu yang saya cari, tapi pas dibaca sekilas menarik: skill ini audit dan rewrite tulisan supaya hilang pola-pola yang bikin teks terasa ditulis mesin. Blog ini kan sebagian artikelnya dibantu agent, jadi pertanyaannya sederhana. Bisa nggak saya pakai buat bikin tulisan yang lebih enak dibaca manusia tanpa harus ngecek manual tiap kalimat.

Saya pasang skillnya, baca SKILL.md-nya, dan ternyata isinya bukan cuma prompt "jadikan lebih manusiawi" yang ngawur. Dia punya tabel penggantian kata 112 entri plus 69 kategori pola, dengan tiga mode: rewrite (flag + perbaiki), detect (cuma tandai), dan edit (ubah file di tempat). Ada juga profil nada: kasual, profesional, teknis, hangat, blak-blakan.

Kenapa detector AI sendiri nggak bisa jadi juri

Skill ini secara jujur nyebut satu hal yang penting: pola yang di-flag itu cuma sinyal, bukan bukti. Studi dari Liang dkk di Stanford (terbit di jurnal Patterns, Cell Press, Juli 2023) nunjukin betapa nggak bisa diandalkannya detector AI. Mereka tes 7 detector populer pakai tulisan manusia asli: 91 esai TOEFL (penulis bukan penutur asli Inggris) dan 88 esai siswa SMP kelas 8 AS. Hasilnya, detector hampir sempurna nebak esai siswa AS sebagai tulisan manusia, tapi salah label lebih dari separuh esai TOEFL sebagai "AI-generated" dengan rata-rata false-positive 61,3%.

Penyebabnya ada di cara detector kerja: mereka ukur perplexity, seberapa bisa ditebak urutan katanya. Kosakata terbatas = teks rendah perplexity = merah. Itu yang bikin penulis ESL (English sebagai bahasa kedua) kena hukuman ganda. Bukan karena mereka pakai AI, tapi karena pilihan katanya lebih sempit. Jadi kalau ada yang bilang "detector bilang tulisan kamu AI," itu belum tentu fakta.

Point-nya bukan "jangan perbaiki tulisan," tapi "jangan bikin alat jadi hakim." avoid-ai-writing menang di sini karena dia kerja sebagai editor kualitas, bukan verdict. Dia nggak ngasih skor "ini 87% AI." Dia cuma bilang "kalimat ini pakai 'leverage' padahal 'use' cukup, mau diganti?"

Cara saya masukin ke pipeline tanpa ngerusak fakta

Di blog ini, alur artikel jalan lewat tools/articles.py verify. Dia ngecek struktur, SEO, dan gaya sebelum publish. Saya port subset skill ini ke dalam verify sebagai gate baru: check_ai_writing(). Tapi saya ambil keputusan penting — mode detect, bukan rewrite.

Alasannya praktis: artikel teknis di sini punya fakta, angka, nama variabel, dan kode. Kalau saya biarin rewrite otomatis jalan di pipeline, ada risiko dia "memperbaiki" kalimat sampai mengubah makna teknisnya. Itu melanggar prinsip evolver saya sendiri: bantu mekanis, jangan ubah angle atau fakta.

Jadi gate ini cuma nolak fingerprint yang nyaris nol false-positive-nya: artefak chatbot (Tentu! Semoga membantu!), markup sitasi bocor dari chat UI (citeturn0search1), parameter URL pelacak AI (utm_source=chatgpt.com), dan placeholder kosong ([Insert ...]). Semua itu FAIL = artikel nggak boleh publish. Heuristik bahasa Inggris seperti "studies show" atau "could potentially" cuma WARN. Nggak memblokir, cuma ngasih tahu.

Uji coba lewat 40 artikel published (20 id + 20 en) dengan flag --no-rollback, hasilnya bersih: nol false-positive. Artinya gate ini nggak bikin artikel sehat saya ditolak cuma gara-gara gaya penulisan.

Satu hal yang saya pelajari: tabel kata upstream itu berpusat di Inggris. Buat artikel Indonesia, sebagian besar entri (delve, tapestry, robust) nggak ke-trigger karena kita nulis bukan bahasa Inggris. Yang relevan lintas bahasa cuma aturan struktural. Em-dash kebanyakan, bold berlebih, daftar bullet berlebih, artefak chatbot. Jadi saya kunci heuristik en ke locale en saja supaya nggak salah警告 artikel id.

Kalau kamu pengelola blog dan pakai agent buat nulis, pesan saya simpel: jangan takut sama detector, tapi peduli sama keterbacaan. Alat kayak avoid-ai-writing berguna kalau diposisikan sebagai editor, bukan sebagai penjaga gerbang yang otomatis nolak. Di pipeline saya, dia duduk di lapisan verifikasi. Nolong sebelum publish, bukan mengganti tulisan saya.

Artikel terkait