Shiki vs Prism.js: Mana yang Tepat untuk Blog Developer di 2026?
Perbandingan data 2026: benchmark runtime, bundle size, dual theme, dan studi kasus blog Next.js — kapan Shiki menang, kapan Prism tetap masuk akal.
Shiki vs Prism.js: Mana yang Tepat untuk Blog Developer di 2026?
Pendahuluan
Code block adalah elemen paling sering dibaca pengunjung blog developer — sekaligus paling sering merusak performa halaman. Dua nama paling populer untuk menanganinya tahun 2026: Prism.js yang sudah lama berkuasa, dan Shiki yang naik cepat sejak dipakai VitePress, Nuxt Content, dan Astro. Artikel ini membedah keduanya dengan data benchmark nyata, bukan opini. Anda akan tahu kapan Shiki jelas menang, kapan Prism tetap masuk akal, dan bagaimana mengimplementasikannya di Next.js dalam hitungan menit.
Cara Kerja: Dua Filosofi yang Berbeda
Perbedaan terbesar keduanya bukan fitur, tapi kapan highlighting terjadi.
Prism.js: runtime di browser. Halaman dikirim, lalu JavaScript Prism mem-parsing code block dan menyuntikkan kelas warna setelahnya. Konsekuensinya: setiap bahasa yang didukung menambah kilobyte ke payload, dan pengunjung menunggu proses highlight (biasanya tak terasa, kecuali halaman berisi puluhan blok kode).
<!-- Output Prism: HTML polos + class, diwarna JS di browser -->
<pre><code class="language-ts">const x: number = 1;</code></pre>Shiki: build-time di server. Saat build, Shiki menghasilkan HTML lengkap dengan inline styles. Tidak ada JavaScript syntax highlighter yang dikirim ke browser sama sekali — dampak bundle untuk pengunjung: nol.
<!-- Output Shiki: warna sudah menempel sebagai inline style -->
<pre class="shiki" style="background-color:#1a1b26">
<code><span style="color:#7dcfff">const</span> ...</code>
</pre>Satu kalimat ringkas: Prism menyewa waktu CPU pengunjung, Shiki membayar di muka saat build.
Benchmark: Kecepatan vs Berat
Benchmark speed-highlight (Node v26, Apple M4, median 9 trial) memberi angka konkret — operasi highlight per menit:
| Corpus | Prism.js | highlight.js | Shiki (js engine) |
|---|---|---|---|
| tiny (1 KB) | 655.152 | 595.113 | 89.925 |
| medium (16 KB) | 34.310 | 48.666 | 6.682 |
| huge (128 KB) | 2.575 | 5.473 | 841 |
Terlihat brutal: Prism 7x lebih cepat dari Shiki di runtime. chsm.dev menyimpulkan hal serupa.
Tapi tunggu — ini setengah cerita. Angka di atas mengukur runtime library di browser. Untuk blog statis yang highlight-nya selesai saat build, angka Shiki yang lambat itu tidak pernah dibayar pengunjung Anda. Yang dibayar pengunjung justru sebaliknya: payload Prism yang bertambah tiap bahasa, versus Shiki yang zero-JS.
Kapan angka runtime ini jadi relevan? Saat Anda butuh highlight dinamis di sisi klien — misalnya live code editor atau playground. Di sanalah Prism (atau speed-highlight) benar-benar unggul.
Satu biaya riil Shiki ada di build time. Pengguna melaporkan build melambat dari 14s ke 46s saat memuat web bundle penuh (discussion #846). Mitigasinya: fine-grained imports dan
createHighlighterKualitas Warna: TextMate vs Regex
Prism memakai grammar regex buatan sendiri. Shiki memakai TextMate grammars — file grammar yang sama yang dipakai VS Code. Beda terasa pada edge case:
// Regex-based highlighter sering salah mewarnai baris ini:
const regex = /"(?<!\\)"/g; // generics + nested quote
function pick<T extends object, K extends keyof T>(obj: T, key: K): T[K] {
return obj[key];
}Pada pola generik bersarang dan regex berisi string, grammar regex kadang menutup token terlalu awal. TextMate grammar men-track context stack, jadi hasilnya identik dengan yang Anda lihat di VS Code. Untuk blog yang menjual diri lewat kualitas teknis, detail ini terlihat oleh pembaca yang tepat.
Dark Mode & Dual Themes
Prism butuh dua tema terpisah plus mekanisme toggle manual. Shiki punya dual themes: satu proses render menghasilkan dua set warna via CSS variables, dan frontend tinggal mengganti class.
const highlighter = await createHighlighter({
themes: ['one-dark-pro', 'one-light'],
langs: ['typescript', 'bash', 'python'],
});
// output menyimpan kedua tema sebagai CSS variables:
// style="--shiki-dark:#e5c07b;--shiki-light:#b18eb1"Toggle dark mode jadi transisi CSS murni — tanpa re-render, tanpa flicker saat halaman pertama dimuat.
Kriteria Praktis Memilih
| Kondisi Anda | Pilihan | Alasan |
|---|---|---|
| Blog/dokumentasi statis (Next.js SSG, Astro, MDX) | Shiki | Zero JS, warna VS Code, dual theme |
| Live code editor / playground client-side | Prism.js | Runtime tercepat, plugin autoloader |
| Proyek lama sudah Prism + plugin custom | Prism.js | Migrasi tidak sepadan jika tak ada masalah |
| Blog berisi sangat banyak blok kode | Shiki | Hemat payload justru makin terasa |
| Build time sangat sensitif (CI cepat) | Prism / Shiki fine-grained | Web bundle penuh Shiki memperlambat build |
Aturan praktis saya: konten yang dirender ulang tiap kunjungan → Prism; konten yang bisa diselesaikan saat build → Shiki.
Implementasi Shiki di Next.js
Langkah minimal di Next.js 14+ (App Router):
npm install shikiimport { createHighlighter } from 'shiki';
const highlighter = createHighlighter({
themes: ['one-dark-pro', 'one-light'],
langs: ['typescript', 'tsx', 'bash'],
});
export default async function CodeBlock({ code }: { code: string }) {
const html = (await highlighter).codeToHtml(code, {
lang: 'typescript',
themes: { light: 'one-light', dark: 'one-dark-pro' },
});
return <div dangerouslySetInnerHTML={{ __html: html }} />;
}Poin penting: panggil
createHighlighterUntuk pengenalan visual, video ini merangkum alur kerja Shiki dengan baik:
Studi Kasus: Blog Ini
Blog yang sedang Anda baca (adityo.web.id, Next.js) memakai Shiki dengan tema one-light/one-dark-pro. Seluruh code block di artikel ini adalah hasil render Shiki sungguhan — silakan toggle dark mode di navbar dan perhatikan warnanya berganti tanpa reload. Contoh integrasi embed interaktif lainnya (diagram, chart) pernah saya bahas di artikel Cara Embed YouTube, Mermaid, dan Recharts di Blog Next.js Tanpa Plugin.
Hasil yang dirasakan: code block konsisten dengan VS Code, tidak ada JS tambahan untuk highlight, dan dark mode bekerja mulus di semua artikel lama maupun baru.
FAQ
Apa itu Shiki?
Syntax highlighter berbasis TextMate grammar (mesin yang sama dengan VS Code) yang merender kode menjadi HTML ber-inline-style saat build — bukan di browser.
Mana yang lebih cepat, Shiki atau Prism.js?
Di runtime browser, Prism jauh lebih cepat (benchmark M4: ~655K vs ~90K ops/min pada file kecil). Tapi untuk blog statis, Shiki menyelesaikan pekerjaan saat build sehingga pengunjung tidak menjalankan highlighter sama sekali.
Apakah Shiki menambah bundle size?
Untuk pengunjung: tidak — hasil akhirnya HTML murni. Untuk developer: paket bahasa/tema menambah dependensi build, dikontrol lewat fine-grained imports.
Bagaimana setup Shiki di Next.js?
Install
shikicreateHighlightercodeToHtmlKapan tetap pakai Prism.js?
Saat butuh highlight dinamis client-side (live editor, playground) atau proyek lama sudah stabil dengan Prism dan plugin-nya.
Kesimpulan
Data 2026 memperjelas pembagian wilayah: Prism.js juara runtime untuk kasus dinamis, Shiki juara hasil akhir untuk konten statis. Untuk blog developer modern yang dirender saat build, Shiki memberi tiga hal yang langsung terasa — zero JS ke pengunjung, warna setia VS Code, dan dual theme dark mode tanpa flicker — dengan satu trade-off yang bisa dikelola: build time. Kalau konten Anda bisa diselesaikan di build, pilih Shiki. Kalau harus hidup di browser, Prism masih sah.